“Angin itu tak terlalu jelas
darimana asalnya. Entah dari kaki bukit atau puncak gunung, aku tak terlalu
paham. Malam itu, diatas 2700 Mdpl, Merbabu berikan kisah..”
Kulihat jam tanganku menunjukkan
pukul setengah sebelas malam. Mencoba memejamkan mata namun tak sanggup,
mencoba menikmati pemandangan sekitar itu tak mungkin lagi. Sesekali aku
beranjak dari ponco yang kujadikan alas tidur itu, untuk melihat kondisi teman
teman Tim Statistik yang berada di dalam ruangan pemancar, maupun yang tidur
sekenanya di bawah naungan bintang gemintang. “Syukurlah, mereka masih baik
baik saja”, gumamku dalam diam. Terlihat Aryono sudah tak berbentuk, entah dia
memakai jaket berapa, plus sleeping bag, dan ponco yang sengaja aku lilitkan
untuk menahan angin dari tubuhnya, membuatnya lebih mirip seonggok sampah
daripada manusia yang sedang tertidur. Aku tak melihat Mas Catra, Mas Afri, dan
Mas Angga Desti, aku tak terlalu cemas, mereka mungkin bisa bertahan dalam
cuaca yang “baik” ini. Setelah menata “tempat tidur”, aku mencoba merebahkan
tubuh ini sebisanya, sekadarnya, sekenanya. Alih alih ingin memejamkan mata,
yang ada malah mengingat ingat apa yang telah terjadi dari pagi sampai malam
hari ini..
Sabtu, 5 Oktober 2013.
Hari ini ada yang tidak beres,
aku sepagi ini, lebih pagi dari alarm yang biasanya menjadi pengantar di pagi
hariku. Dengan mengambil tas daypack yang telah kuisi dengan kotak P3K, aku
bergegas pergi menuju kontrakan temanku. Setibanya, aku melihat Carrier
setinggi separuh tubuhku itu menanti untuk dipanggul. Kulihat teman teman yang
lain juga menyibukkan diri mempersiapkan barang bawaan mereka. Tanpa banyak
drama, aku menuju GSG Undip, tempat yang dijadikan titik awal pemberangkatan
yang telah dijanjikan, dan menunggu teman teman yang lain datang.
Setibanya disana, sudah ada
Rasyid dan truk, Mas Agung Waluyo, dan beberapa cewek yang mengerumun menyendiri
di bawah pohon. Aku melihat Ransel mereka semua terisi penuh, semoga saja mereka
semua membawa peralatan yang ada dalam daftar barang yang telah kuberikan.
Sambil mondar mandir dan menjarkom teman teman yang lain, mereka satu per satu
datang dan kelewat dari batas waktu yang telah ditentukan. Ah, memang budaya
kita dimana janjian jam 7 akan datang satu jam setelahnya. “Ayo kumpul sebentar
buat briefing, cepetan!” , teriak Ariyo kepada temen temen yang lain. Setelah
semua berkumpul, briefing, dan dengan
semangat yang masih utuh, kita berangkat.
Merbabu! Itulah tujuan kita dalam
perjalanan kali ini. Ekspedisi ini diikuti oleh 27 orang. Tujuh belas laki laki,
yang diantaranya sudah pernah naik gunung, dan sepuluh cewek cewek perkasa yang
sebelumnya aku prediksi tidak ada yang mau mengikuti pendakian ini. Ah,
merepotkan, baru kali ini mendaki dengan orang sebanyak ini. Baru kali ini,
mendaki gunung harus diribetin masalah proposal dan lobby melobby. Biasanya
kalau naik gunung tinggal naik kan.. Ribet.. Sungguh ribet..
Pukul 10.00 WIB, di saat teman
teman yang lain sudah menunggu di Kopeng, aku dan si Firdha a.k.a Oneng, masih
asyik dengan segelas es teh dan beberapa potong gorengan hasil dari sepik sepik
si Oneng ke temennya. Kami sengaja memisahkan diri dari rombongan truk, dengan
niat mengambil tenda doom titipan temennya Oneng. Tak berlama lama lagi karena beberapa sms
masuk dari beberapa teman yang ternyata sudah menunggu di daerah Kopeng, aku
dan Oneng langsung menyusul mereka yang ternyata sudah sampai duluan di
Basecamp Mandala, point pertama dari jalur Pendakian Gunung Merbabu via Cuntel,
Kopeng, Salatiga. Setelah perjalanan menuju Basecamp Cuntel, bertemu teman
teman yang lain, segera saja aku urus akomodasi masalah konsumsi dan bertemu
Mas Joko (yang ngurusin basecamp), sementara si Rasyid, Ariyo, dan Rifki
menyibukkan diri dengan beberapa lembar Soekarno Hatta. Sesekali aku memandangi
Puncak Gunung Pregodalem yang lebih akrab dengan Pos Pemancar. “Mereka tak tau
apa yang mereka hadapi nanti, Gusti paringono slamet, Gusti paringono slamet.”.
Pukul setengah 1, si Ariyo
menyuruh temen temen yang lain untuk melakukan persiapan. Beberapa dari temen
temen ada yang membenarkan packing, sholat, sementara aku dan si Aryono masih
mencari toilet di daerah Kopeng. “Cepet ndes munggah”, sms yang aku terima dari
Ariyo aku hiraukan karena perut lagi melilit lilit mulesnya. Setengah jam lagi, aku harus kembali ke Kopeng
guna mengkoordinir teman teman yang lain. Dan benar, setelah shalat dan melepas
hajat, aku dan Aryono menggeber motor kembali menuju Basecamp Pendakian.
Sesampai disana, mereka semua sudah bersiap.. Aku tentram sesaat, kupandangi
raut wajah mereka satu persatu, mereka semua masih semangat. Aku harap itu
selalu ada..
| briefing Pendakian Merbabu. |
Satu jam selanjutnya. Setelah
briefing kecil dan pembagian regu pemberangkatan, dan dengan ritual berdoa yang
tak akan pernah aku lewatkan sebelum melakukan sebuah perjalanan. Entah, aku tak
berharap banyak pada pendakian kali ini, hanya saja kita semua satu tim, 27
orang, akan kembali di tempat awal di mana kita berkumpul, tanpa berkurang satu
tubuh-pun, tanpa berkurang satu orang-pun. Kulihat raut wajah mereka satu per
satu, masih ceria. Hanya aku yang merasa cemas, entah, aku tak tahu. Kulihat ke
atas, langit tak terlalu cerah, awan awan itu mulai bergerak perlahan menuju
kea rah matahari terbit. Sekali lagi, kuharap semuanya akan berawal dengan
baik, berakhir dengan baik..
Perjalanan terbagi menjadi tiga
regu. Pembagian regu ini sebenarnya bertujuan untuk memudahkan koordinasi antar
anggota, tapi itu semua hanyalah mitos ketika di tengah tengah perjalanan
menuju pos bayangan satu, regu kedua mulai tidak bisa menjaga jarak dari regu
pertama. Dan kebetulan sekali, ketika kulihat regu ketiga, ada temen cewek yang
hobinya break. Terpaksa aku harus berada di regu ketiga, dan “ngopeni” salah
satu anggota yang sudah kelelahan. Ah
biasa, mungkin karena baru pertama mendaki, tidak apa apa, mungkin nanti akan
terbiasa. Dari tiga regu, kini tim pendakian terbagi menjadi dua regu
saja, temen temen cowok dan beberapa
temen temen cewek juga jalan dengan lumayan cepat sementara saya di regu kedua
masih jalan santai bersama temen temen cewek yang lain dan beberapa senior
yakni Mas Catra dan Mas Angga Saputra yang mungkin lebih pengertian daripada
temen temen cowok yang jalan duluan di regu pertama. Hehe.. “Ah ini baru
perjalanan. Kekuatan terbesar bukan ketika kamu cepat dalam urusan mencapai
sebuah tempat, tetapi ketika kamu harus bersabar untuk berada pada suatu
keadaan”, gumamku yang biasanya hobi ninggalin temen temen jauh di belakan
dengan modus sebagai penunjuk jalan..
Setengah empat, aku mulai
memperhatikan keadaan sekitar dan memastikan bahwa ini pos bayangan dua. Ini
pertanda baik, sesuai perkiraanku. Aku tak pernah luput memperhatikan raut
wajah mereka satu persatu. Meskipun aneh, tapi melihat sisi “lain” dari
seseorang itu sangat menyenangkan. Kulihat juga si Dita yang sudah mulai
membaik. Dan beberapa teman teman yang bercanda karena ada kancut yang
tersangkut, atau sengaja disangkutkan di ranting pohon oleh pendaki lain.
Seperti biasanya, di sela sela candaan teman teman, aku yang panik melihat bak
air yang ada disitu tak terisi air yang begitu banyak.Langsung saja aku menghimbau teman teman yang
lain agar menghemat persediaan air yang ada. Ah, ada ada saja, aku harap
beberapa teman yang duluan juga berpikiran yang sama sepertiku setelah melihat
isi dari bak tersebut. Ah ada ada saja..
“Mas, aku dhisik yo. Titip bocah
bocah. Arep nggudak Sunset”. Percakapan itu kutujukan kepada Mas Catra saat di
pos 2. Satu jam dari pos bayangan dua kami tiba di pos dua. Setelah melewati
pos satu dengan jalur berpasir dan kemiringan hampir 40 derajat. Dan dari pos
satu ke pos dua melewati jalur yang hampir sama dengan kemiringan yang lebih
menanjak. Awan awan sudah berada di bawah tempat kami berpijak. Sembari rehat,
kuputar lagunya Nidji-Di Atas Awan OST dari film 5 cm garapan sutradara Rizal
Mantovani. Ah, senja itu tak seperti senja yang biasanya, damai di antara
hembusan angin, damai di antara dekapan dingin. “Aku harus beranjak, aku tak
boleh ketinggalan itu..”.
| view dari jalur pos 1 menuju pos 2. |
Pukul setengah lima. Dari pos dua, aku meninggalkan
teman teman yang ada di regu kedua. Bukan apa apa, aku hanya ingin mengejar
Matahari terbenam di sela sela Sindoro Sumbing. View tersebut pernah aku
dapatkan saat perjalanan turun pendakian Merapi beberapa bulan silam. Aku
berjalan agak cepat hingga menyalip beberapa teman teman yang sudah duluan
meninggalkan Pos dua terlebih dahulu. Ah, ternyata perkiraanku juga salah. Regu
pertama ternyata terbagi lagi menjadi bagian bagian kecil. Ada Wiga, Ratih
Ariyo dan Mas Wilis yang sempat aku temui ketika berjalan menuju Pos 3. Namun
tak kulihat si Oneng, rupanya fisiknya mumpuni juga sampai sampai mengimbangi
beberapa cowok yang mungkin sudah sampai Pos tiga duluan. Ada juga si Tedjo dan
Rifki berjalan bersamaan, mungkin mereka tidak tahu itu jalannya benar atau
tidak. Dan kebetulan sekali ketika hampir menyalip si Rasyid, aku menemukan
sebuah spot yang sepertinya menarik untuk dijadikan tempat berfoto. Ah ternyata
benar, setelah Si Rasyid aku jadikan kelinci percobaan dengan berpose di tempat
tersebut, hasil fotonya lumayan. Lumayan nggatheli.. hehe. Kemudian datang si
Rifki, si Ratih, si Wiga, yang meminta untuk dipotret secara bergantian. Tempat
ini mengalihkan tujuanku sejenak untuk mengejar Sunset. Setelah beberapa foto
terambil, aku melanjutkan perjalanan ke Pos 3. Kali ini bareng bareng sama
Ratih dan Dewiga, beserta Mas Wilis yang kadang ada suaranya, tapi tak kulihat
wujudnya.
Pos 3, jam lima lebih lima belas. Sendja di antara rerumputan. Matahari perlahan mulai
turun perlahan di sisi kiri Gunung Sumbing.
Angin bertiup perlahan menyapa rerumputan. Langit sore yang memerah
terbias matahari , terbalut dengan awan awan putih yang melayang layang di atas
cakrawala. Tuhan ada, dan menggetarkan nurani kita melalui sebuah senja…
| Don't let the sun down.. |
Setelah berfoto foto ria dan
menelanjangi matahari terbenam di ketinggian di atas 2000 mdpl. Teman teman
bergegas melanjutkan perjalanan menuju tempat ngecamp. Matahari sudah turun
sedari tadi. Hari mulai gelap, semoga tidak akan semangat mereka. Aku kembali
mengamati raut wajah teman teman yang lain. Untuk perjalanan menuju ke Pos 4,
Pemancar, aku harus lebih bersabar. Ini
nanti tak akan mudah, aku mengambil posisi sebagai sweeper, jaga jaga jikalau
langkahku terlalu cepat dan meninggalkan teman teman yang lain. Seperti biasa,
team
dibagi menjadi dua lagi. Kali ini mas Catra dan mas Angga lebih dahulu karena
ingin mencari spot untuk mendirikan tenda. Aku, Aryono, Rifki, mas Wilis, dan
mas Angga’10 adalah cowok yang tersisa untuk mengawal sepuluh cewek yang
menjadi bagian dari team pendakian Gn. Merbabu. Ah, aku harap tidak ada yang
tersesat dan berkurang, tapi aku akan lebih panik lagi jika anggota pendakian
bertambah.
Pukul Setengah Tujuh..
“Nanti kalau ada angin, jangan
jalan dulu ya. Berhenti di tempat kalian berdiri. Lindungi mata kalian, dan
saling mengawasi teman teman yang lain”, aku menginstruksikan kepada teman
teman untuk tetap waspada. Kurang lebih seperti itu. Malam itu, di tengah
tengah perjalanan menuju pos 4, dengan track berbatu dan berpasir dengan
kemiringan rata rata 50 derajat, kita kedatangan sebuah “teman”. Angin mulai datang. Bukan angin mesra yang
menyapa rerumputan di kala senja. Bukan juga angin pagi yang mengiringi embun
untuk menyapa mentari pagi. Tapi angin yang membawa iklim kering dan bertiup
kencang menerpa tubuh tubuh yang berjuang mencapai pos Pemancar. Aku tak dapat
melihat raut wajah teman teman yang lain, aku harus mencari kegiatan yang lain
yang menyenangkan untuk dilakukan karena keseringan nge-break karena angin yang
datang. Ini bukan lagi masalah fisik lagi, tapi ini masalah mental. Kalian
sedang diuji, begitu juga denganku. Ternyata sunset sore tadi harus dibayar
dengan perjuangan yang “menyenangkan” untuk mencapai pos Pemancar. Setelah 2,5
jam, tertatih tatih di track berpasir, dengan semangat yang ada dan raut wajah
yang letih. Kami sampai di Pos Pemancar dengan selamat, dengan team yang utuh,
dengan cuaca yang tidak begitu baik.
Angin yang bertiup terlalu
kencang tidak memungkinkan bagi kami untuk mendirikan tenda. Dan teman teman
yang tadi sampai duluan di Pos 4, ternyata juga telah didahului oleh pendaki
lain terkait dengan masalah ruangan yang ada di dalam pemancar tersebut. Mau
tak mau, kami harus berbagi. Terbiasakan dengan ketidak nyamanan malam hari
ini. Ada teman teman yang memasak mie, ada juga yang mencoba masak roti bakar,
namun tidak jadi roti. Ada juga yang memilih untuk langsung tidur. Ada juga
yang memilih untuk mondar mandir melihat keadaan sekitar. Biasakanlah kawan,
biasakan, malam ini akan berlangsung terlalu lama bagi kalian yang tidak bisa
menikmatinya. Kami sampai di Pemancar pukul delapan malam WIB. Setidaknya hanya
itu yang mampu meredakan keresahanku, kita sampai di Pemancar sesuai dengan
waktu yang telah diperkirakan.
Minggu, 6 Oktober 2013.
Dini hari pukul setengah dua,
angin masih saja bertiup tanpa mengenal kata perlahan. Kulihat saat itu Aryono
semakin tak berbentuk. Mencoba menyapa Tedjo yang samar samar masih kudengar suaranya,
si Rasyid juga masih terjaga. Mereka berdua tidur di luar ruangan pemancar
karena di dalam sudah tidak memungkinkan lagi untuk berbagi. Malam seperti ini,
malam yang kuharap akan cepat berakhir, berganti dengan pagi yang mungkin akan
membuat suasana menjadi lebih baik. Tapi semakin kita berharap seperti itu
semakin lama saja rasanya detik berganti. Ah sudahlah.. Nikmati saja..
Masih dini hari, saat itu jam
tanganku menunjukkan pukul setengah tiga. Tepat dimana suhu sedang dingin
dinginnya, ditambah angin yang berhembus dengan sekencang kencangnya. Aku
berpikir bahwa daripada diam kedinginan,lebih baik berkeliling untuk
mendapatkan kehangatan. Aku beranjak dari “tempat tidur”ku, dan sekali lagi di
sela sela dinginnya, Merbabu berikan pesonanya. Dari pemancar ini, Salatiga menyapa
dengan mesra melalui bias lampu kotanya. Keindahan seperti ini masih buatan
manusia. Mencoba mendongak ke atas, dan kutemui gugusan bintang gemintang,
indah berkilauan, seperti tambang permata yang ada di dalam gua. Terkadang
beberapa bintang jatuh menambah kesan damai saat memandangi dari dasar
bentangan cakrawala. Kuputar pelan pelan lagu Jagostu, “Tuhan Berbicara Lewat
Alam”. Ah, memang benar, Tuhan tak perlu terlihat, hanya yang terlihat yang
mampu membuktikan keberadaan Tuhan.. Ini baru keindahan racikanNya..
Dini hari pukul setengah lima.
Cakrawala mulai samar samar terlihat di belahan langit bagian timur.
Menunjukkan bahwa mentari tak akan berlama lama lagi bersembunyi di balik
tumpukan awan. Tampak barisan puncak Gunung Merbabu mulai menunjukkan
kemegahannya. Ah, sekali lgi, Terima Kasih Tuhan. Namun anginnya juga tak
kunjung reda. Sekedar berjalan mondar mandir sambil mencari panas tubuh,
kutanyai Mas Arif yang saat itu sepertinya masih nyaman dengan sleeping bagnya.
Ah sudahlah, aku tidak perlu memaksa. Mungkin nanti pagi, ketika matahari mulai
ada, sang angin sudah mulai beranjak reda. Saat itu Yogi dan Viliyan yang
sedang sibuk mencari tempat untuk pipis. Dan kutunjukkan saja ‘spot’ terenak
untuk melakukan hal tersebut. Sembari menunggu matahari terbit, kami bercakap
cakap, bercanda ala kadarnya, dan dini hari yang dingin itu, perlahan pudar
ditelan pembicaraan kami. Ah, nikmati saja.. (lebay)
Menjaring sunrise di ketinggian
2700 mdpl (05.30). Meskipun bukan yang pertama, tapi aku tak pernah bosan.
Matahari di pagi itu, sangatlah menyenangkan, menenangkan, mengingat apa yang
telah menemani semalam, angin beserta antek anteknya. Kulihat satu persatu
teman teman team pendakian Statistika mulai keluar dari bunker pemancar. Memang
pagi itu masih dingin, karena sinar matahari, aku bisa kembali mengamati raut
wajah teman teman yang lain (hobi yang menyenangkan). Beberapa mengambil foto, beberapa menikmati
pemandangan yang ada, dan masih ada yang memilih untuk beristirahat. Di sebelah
barat, gumpalan awan berada persis di bawah mata kaki kami. Gunung Sumbing,
Sindoro, dan Ungaran juga tak kalah eksotis turut berandil menyempurnakan pagi. Sementara itu, barisan puncak
Gunung Merbabu sudah menghiasi pemandangan di bagian selatan. Megah, dan jelas
bukan buatan manusia.
| Sunrise's View from Pemancar. |
06.30. Viliyan, Anton, Yogi,
Rasyid, Mas Arif, Mas Hilman, Mas Omi, Mas Afri. Terimas kasih kawan, kalian
telah membawa Himasta Ke Puncak Puncak Gunung Merbabu. Mereka ber-delapanlah
yang akan mewakili Team Pendakian Gunung Merbabu untuk menjalankan summit
attack ke puncak Kenteng Songo, dan Puncak Syariff. Atap Gunung Merbabu,
sambutlah mereka dengan pesonamu. Mereka bergegas dari Pemancar, hanya membawa
camdig, beberapa liter botol aqua, dan sekaleng Oxycan. Dan perkiraanku, mereka
akan kembali ke Pemancar sekitar pukul setengah sepuluh. Mereka berangkat, dan
teman teman yang lain sibuk mengambil gambar, beberapa ada yang melihat
pemandangan sekitar. Sementara itu aku, duduk manis di depan perapian yang
dibuat di dalam bunker pemancar sambil menunggu roti bakarku matang. Doaku mengirimu teman, sampaikan salamku untuk
Merapi yang akan kau lihat nanti. “Rasa penasaran akan menuntunmu ke tempat
tempat yang sebelumnya tidak pernah kau jamah. Tapi imbangilah dengan persiapan
yang sudah matang”
09.15. Mereka sudah kembali ke
pemancar. Mereka berdelapan tidak kurang maupun lebih, Team Summit Attack
Merbabu. Terima kasih kawan kawan. Semoga selain lelah yang kalian rasakan,
kalian juga merasakan kehadiran Tuhan. Kulihat foto foto yang termabil di
camdigku. Ada yang aneh, hanya beberapa orang yang sampai di Puncak Kenteng
Songo. Hanya Viliyan, Yogi, dan Rasyid. Setelah ngobrol ngalor ngidul, ternyata
selama perjalanan, mereka terpisah. Rasyid yang katanya naik gunung terlalu
cepat, hanya bisa diikuti Viliyan dan Yogi yang membawa mereka sampai ke Puncak
Kenteng Songo Merbabu 3149 mdpl. Dan yang lain, Mas Arif, Mas Hilman, Mas Omi,
Mas Afri, dan Anton berhasil menjejakkan kaki mereka di Puncak Syariff 3119
mdpl. Di kedua puncak tersebut, Merapi bisa terlihat jelas, pemancar juga bisa
dilihat dari kedua puncak tersebut. Dan Gunung Lawu yang tak ketinggalan
menghiasi horizon langit bagian timur. Semoga kita tak akan pernah bosan
berpetualang, melihat lembah dan bukit dari ketinggian, dan merasakan
keberadaan Tuhan.
| Rasyid, Viliyan, Yogi, berpose di puncak Kenteng Songo Merbabu, dengan background Gn. Merapi |
10.00. Team Pendakian hanya
sampai di Pos Pemancar. Bagiku itu bukan masalah. Mungkin begitu juga dengan
teman teman yang lain. Di raut wajah mereka tak terbesitpun sedikit rasa
penyesalan karena tak mencapai puncak. Aku juga mengurungkan niat melanjutkan
perjalanan ke Puncak Gunung Merbabu pagi ini. Angin masih bertiup dengan
kencang, dan itu masih berlangsung dari tadi malam, sampai jam tangan
menunjukkan pukul sepuluh pagi. Mataku tak kuat jika harus berjalan dengan
cuaca seperti itu. Sementara debu debu beterbangan di hempas angin gunung
Merbabu, kami bersiap bersiap perjalanan
turun menuju Basecamp pendakian Mandala. Team Summit attack Puncak Merbabu
memilih tinggal sejenak di pos Pemancar, kecuali si Rasyid yang lebih memilih untuk
melakukan perjalanan turun. Pukul sepuluh lebih lima belas menit, kami menuruni
Pemancar menju basecamp. Semoga sampai sejauh ini. Engkau masih memberkati. Amin
14.00. Basecamp Mandala Cunthel. Ariyo menerima sms dari salah satu rekan yang
tadi memilih tinggal sejenak di Pemancar. Isi pesannya kurang lebih mengabarkan
bahwa mereka tersesat sampai Basecamp Thekelan. Bukannya panik, yang ada malah
pada ketawa tawa. Aku tak terlalu cemas karena mereka laki laki semua. Aku
langsung menjemput mereka yang tersesat di Basecamp Thekelan bersama Aryono,
yang ternyata mereka malah asik asikan pesan makanan dan minuman di daerah
Kopeng. Aku yang tak habis piker langsung saja kembali ke Basecamp mempacking
barang barang.
16.00. Truk sudah tiba di
basecamp Cunthel bebarengan dengan teman teman yang tadi nyasar sampai basecamp
Thekelan. Sementara aku selesai mempacking barang, begitu juga teman teman yang
lain. Mereka semua sudah sampai di Basecamp Mandala Cunthel dengan selamat dan
tak kurang satu apapun. Terima kasih karena Engkau senantiasa menjaga. Lelah
terpancar dari raut wajah mereka. Semoga Semarang masih menerima kedatangan
kembali ke awal tempat kita berkumpul GSG UNDIP…
![]() |
| Tim Pendakian Massal Statistika 2013. Gn.Merbabu, 5-6 Okober 2013 |
18.30. Semarang.. Terima kasih…
Terima kasih Merbabu, untuk cerita di sela sela angin, pasir, hutan, dan
bebatuan. Perjalanan bukan masalah kau berhasil mencapai tempat tujuanmu atau
tidak, meskipun hanya beberapa. Inti dari sebuah perjalanan adalah ketika kau tak
melupakan rumah dan keluarga sebagai tempatmu untuk berpulang. Jangan pernah
berusaha menaklukkan puncak, yang butuh usaha untuk kita taklukkan adalah ego
dari diri kita sendiri. Semoga kita berproses dengan sebuah perjalanan, dan menjadi manusia yang
bijaksana atas pelajaran yang didapat selama suatu perjalanan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar