Jumat, 08 November 2013

“Angin itu tak terlalu jelas darimana asalnya. Entah dari kaki bukit atau puncak gunung, aku tak terlalu paham. Malam itu, diatas 2700 Mdpl, Merbabu berikan kisah..”

Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Mencoba memejamkan mata namun tak sanggup, mencoba menikmati pemandangan sekitar itu tak mungkin lagi. Sesekali aku beranjak dari ponco yang kujadikan alas tidur itu, untuk melihat kondisi teman teman Tim Statistik yang berada di dalam ruangan pemancar, maupun yang tidur sekenanya di bawah naungan bintang gemintang. “Syukurlah, mereka masih baik baik saja”, gumamku dalam diam. Terlihat Aryono sudah tak berbentuk, entah dia memakai jaket berapa, plus sleeping bag, dan ponco yang sengaja aku lilitkan untuk menahan angin dari tubuhnya, membuatnya lebih mirip seonggok sampah daripada manusia yang sedang tertidur. Aku tak melihat Mas Catra, Mas Afri, dan Mas Angga Desti, aku tak terlalu cemas, mereka mungkin bisa bertahan dalam cuaca yang “baik” ini. Setelah menata “tempat tidur”, aku mencoba merebahkan tubuh ini sebisanya, sekadarnya, sekenanya. Alih alih ingin memejamkan mata, yang ada malah mengingat ingat apa yang telah terjadi dari pagi sampai malam hari ini..

Sabtu, 5 Oktober 2013.
Hari ini ada yang tidak beres, aku sepagi ini, lebih pagi dari alarm yang biasanya menjadi pengantar di pagi hariku. Dengan mengambil tas daypack yang telah kuisi dengan kotak P3K, aku bergegas pergi menuju kontrakan temanku. Setibanya, aku melihat Carrier setinggi separuh tubuhku itu menanti untuk dipanggul. Kulihat teman teman yang lain juga menyibukkan diri mempersiapkan barang bawaan mereka. Tanpa banyak drama, aku menuju GSG Undip, tempat yang dijadikan titik awal pemberangkatan yang telah dijanjikan, dan menunggu teman teman yang lain datang.
Setibanya disana, sudah ada Rasyid dan truk, Mas Agung Waluyo, dan beberapa cewek yang mengerumun menyendiri di bawah pohon. Aku melihat Ransel mereka semua terisi penuh, semoga saja mereka semua membawa peralatan yang ada dalam daftar barang yang telah kuberikan. Sambil mondar mandir dan menjarkom teman teman yang lain, mereka satu per satu datang dan kelewat dari batas waktu yang telah ditentukan. Ah, memang budaya kita dimana janjian jam 7 akan datang satu jam setelahnya. “Ayo kumpul sebentar buat briefing, cepetan!” , teriak Ariyo kepada temen temen yang lain. Setelah semua berkumpul, briefing,  dan dengan semangat yang masih utuh, kita berangkat.
Merbabu! Itulah tujuan kita dalam perjalanan kali ini. Ekspedisi ini diikuti oleh 27 orang. Tujuh belas laki laki, yang diantaranya sudah pernah naik gunung, dan sepuluh cewek cewek perkasa yang sebelumnya aku prediksi tidak ada yang mau mengikuti pendakian ini. Ah, merepotkan, baru kali ini mendaki dengan orang sebanyak ini. Baru kali ini, mendaki gunung harus diribetin masalah proposal dan lobby melobby. Biasanya kalau naik gunung tinggal naik kan.. Ribet.. Sungguh ribet..

Pukul 10.00 WIB, di saat teman teman yang lain sudah menunggu di Kopeng, aku dan si Firdha a.k.a Oneng, masih asyik dengan segelas es teh dan beberapa potong gorengan hasil dari sepik sepik si Oneng ke temennya. Kami sengaja memisahkan diri dari rombongan truk, dengan niat mengambil tenda doom titipan temennya Oneng.  Tak berlama lama lagi karena beberapa sms masuk dari beberapa teman yang ternyata sudah menunggu di daerah Kopeng, aku dan Oneng langsung menyusul mereka yang ternyata sudah sampai duluan di Basecamp Mandala, point pertama dari jalur Pendakian Gunung Merbabu via Cuntel, Kopeng, Salatiga. Setelah perjalanan menuju Basecamp Cuntel, bertemu teman teman yang lain, segera saja aku urus akomodasi masalah konsumsi dan bertemu Mas Joko (yang ngurusin basecamp), sementara si Rasyid, Ariyo, dan Rifki menyibukkan diri dengan beberapa lembar Soekarno Hatta. Sesekali aku memandangi Puncak Gunung Pregodalem yang lebih akrab dengan Pos Pemancar. “Mereka tak tau apa yang mereka hadapi nanti, Gusti paringono slamet, Gusti paringono slamet.”.

Pukul setengah 1, si Ariyo menyuruh temen temen yang lain untuk melakukan persiapan. Beberapa dari temen temen ada yang membenarkan packing, sholat, sementara aku dan si Aryono masih mencari toilet di daerah Kopeng. “Cepet ndes munggah”, sms yang aku terima dari Ariyo aku hiraukan karena perut lagi melilit lilit mulesnya.  Setengah jam lagi, aku harus kembali ke Kopeng guna mengkoordinir teman teman yang lain. Dan benar, setelah shalat dan melepas hajat, aku dan Aryono menggeber motor kembali menuju Basecamp Pendakian. Sesampai disana, mereka semua sudah bersiap.. Aku tentram sesaat, kupandangi raut wajah mereka satu persatu, mereka semua masih semangat. Aku harap itu selalu ada..
briefing Pendakian Merbabu.
Satu jam selanjutnya. Setelah briefing kecil dan pembagian regu pemberangkatan, dan dengan ritual berdoa yang tak akan pernah aku lewatkan sebelum melakukan sebuah perjalanan. Entah, aku tak berharap banyak pada pendakian kali ini, hanya saja kita semua satu tim, 27 orang, akan kembali di tempat awal di mana kita berkumpul, tanpa berkurang satu tubuh-pun, tanpa berkurang satu orang-pun. Kulihat raut wajah mereka satu per satu, masih ceria. Hanya aku yang merasa cemas, entah, aku tak tahu. Kulihat ke atas, langit tak terlalu cerah, awan awan itu mulai bergerak perlahan menuju kea rah matahari terbit. Sekali lagi, kuharap semuanya akan berawal dengan baik, berakhir dengan baik..
Perjalanan terbagi menjadi tiga regu. Pembagian regu ini sebenarnya bertujuan untuk memudahkan koordinasi antar anggota, tapi itu semua hanyalah mitos ketika di tengah tengah perjalanan menuju pos bayangan satu, regu kedua mulai tidak bisa menjaga jarak dari regu pertama. Dan kebetulan sekali, ketika kulihat regu ketiga, ada temen cewek yang hobinya break. Terpaksa aku harus berada di regu ketiga, dan “ngopeni” salah satu anggota yang sudah kelelahan.  Ah biasa, mungkin karena baru pertama mendaki, tidak apa apa, mungkin nanti akan terbiasa. Dari tiga regu, kini tim pendakian terbagi menjadi dua regu saja,  temen temen cowok dan beberapa temen temen cewek juga jalan dengan lumayan cepat sementara saya di regu kedua masih jalan santai bersama temen temen cewek yang lain dan beberapa senior yakni Mas Catra dan Mas Angga Saputra yang mungkin lebih pengertian daripada temen temen cowok yang jalan duluan di regu pertama. Hehe.. “Ah ini baru perjalanan. Kekuatan terbesar bukan ketika kamu cepat dalam urusan mencapai sebuah tempat, tetapi ketika kamu harus bersabar untuk berada pada suatu keadaan”, gumamku yang biasanya hobi ninggalin temen temen jauh di belakan dengan modus sebagai penunjuk jalan..
Setengah empat, aku mulai memperhatikan keadaan sekitar dan memastikan bahwa ini pos bayangan dua. Ini pertanda baik, sesuai perkiraanku. Aku tak pernah luput memperhatikan raut wajah mereka satu persatu. Meskipun aneh, tapi melihat sisi “lain” dari seseorang itu sangat menyenangkan. Kulihat juga si Dita yang sudah mulai membaik. Dan beberapa teman teman yang bercanda karena ada kancut yang tersangkut, atau sengaja disangkutkan di ranting pohon oleh pendaki lain. Seperti biasanya, di sela sela candaan teman teman, aku yang panik melihat bak air yang ada disitu tak terisi air yang begitu banyak.Langsung saja aku menghimbau teman teman yang lain agar menghemat persediaan air yang ada. Ah, ada ada saja, aku harap beberapa teman yang duluan juga berpikiran yang sama sepertiku setelah melihat isi dari bak tersebut. Ah ada ada saja..

“Mas, aku dhisik yo. Titip bocah bocah. Arep nggudak Sunset”. Percakapan itu kutujukan kepada Mas Catra saat di pos 2. Satu jam dari pos bayangan dua kami tiba di pos dua. Setelah melewati pos satu dengan jalur berpasir dan kemiringan hampir 40 derajat. Dan dari pos satu ke pos dua melewati jalur yang hampir sama dengan kemiringan yang lebih menanjak. Awan awan sudah berada di bawah tempat kami berpijak. Sembari rehat, kuputar lagunya Nidji-Di Atas Awan OST dari film 5 cm garapan sutradara Rizal Mantovani. Ah, senja itu tak seperti senja yang biasanya, damai di antara hembusan angin, damai di antara dekapan dingin. “Aku harus beranjak, aku tak boleh ketinggalan itu..”.

view dari jalur pos 1 menuju pos 2.
Pukul setengah lima. Dari pos dua, aku meninggalkan teman teman yang ada di regu kedua. Bukan apa apa, aku hanya ingin mengejar Matahari terbenam di sela sela Sindoro Sumbing. View tersebut pernah aku dapatkan saat perjalanan turun pendakian Merapi beberapa bulan silam. Aku berjalan agak cepat hingga menyalip beberapa teman teman yang sudah duluan meninggalkan Pos dua terlebih dahulu. Ah, ternyata perkiraanku juga salah. Regu pertama ternyata terbagi lagi menjadi bagian bagian kecil. Ada Wiga, Ratih Ariyo dan Mas Wilis yang sempat aku temui ketika berjalan menuju Pos 3. Namun tak kulihat si Oneng, rupanya fisiknya mumpuni juga sampai sampai mengimbangi beberapa cowok yang mungkin sudah sampai Pos tiga duluan. Ada juga si Tedjo dan Rifki berjalan bersamaan, mungkin mereka tidak tahu itu jalannya benar atau tidak. Dan kebetulan sekali ketika hampir menyalip si Rasyid, aku menemukan sebuah spot yang sepertinya menarik untuk dijadikan tempat berfoto. Ah ternyata benar, setelah Si Rasyid aku jadikan kelinci percobaan dengan berpose di tempat tersebut, hasil fotonya lumayan. Lumayan nggatheli.. hehe. Kemudian datang si Rifki, si Ratih, si Wiga, yang meminta untuk dipotret secara bergantian. Tempat ini mengalihkan tujuanku sejenak untuk mengejar Sunset. Setelah beberapa foto terambil, aku melanjutkan perjalanan ke Pos 3. Kali ini bareng bareng sama Ratih dan Dewiga, beserta Mas Wilis yang kadang ada suaranya, tapi tak kulihat wujudnya.

Pos 3, jam lima lebih lima belas. Sendja di antara rerumputan. Matahari perlahan mulai turun perlahan di sisi kiri Gunung Sumbing.  Angin bertiup perlahan menyapa rerumputan. Langit sore yang memerah terbias matahari , terbalut dengan awan awan putih yang melayang layang di atas cakrawala. Tuhan ada, dan menggetarkan nurani kita melalui sebuah senja…
Don't let the sun down..
                 
Setelah berfoto foto ria dan menelanjangi matahari terbenam di ketinggian di atas 2000 mdpl. Teman teman bergegas melanjutkan perjalanan menuju tempat ngecamp. Matahari sudah turun sedari tadi. Hari mulai gelap, semoga tidak akan semangat mereka. Aku kembali mengamati raut wajah teman teman yang lain. Untuk perjalanan menuju ke Pos 4, Pemancar, aku harus lebih bersabar.  Ini nanti tak akan mudah, aku mengambil posisi sebagai sweeper, jaga jaga jikalau langkahku terlalu cepat dan meninggalkan teman teman yang lain. Seperti biasa,